JAKARTA, inca-construction.co.id – Dunia desain interior dan arsitektur terus berkembang mengikuti dinamika sosial dan budaya masyarakat. Jika sebelumnya gaya minimalis mendominasi dengan prinsip less is more, kini hadir pendekatan baru yang menjadi tandingan dari estetika kosong: cluttercore. Berakar dari kebutuhan personalisasi ruang, cluttercore tidak hanya bicara soal dekorasi, tapi juga menyentuh ranah arsitektur interior—yakni bagaimana ruang diolah secara fungsional dan emosional melalui objek-objek bermakna.
Memahami Cluttercore dalam Perspektif Arsitektur Interior

Cluttercore bukan sekadar ‘rumah berantakan yang estetis’, tetapi pendekatan desain ruang yang memosisikan objek sebagai narasi hidup. Ini sejalan dengan konsep arsitektur yang melihat ruang sebagai media ekspresi dan komunikasi sosial. Filosoficluttercore mendorong penghuni untuk berinteraksi aktif dengan ruang melalui koleksi personal, memori, dan cerita hidup.
Berbeda dengan hoarding disorder, cluttercore adalah hasil kurasi sadar yang mempertimbangkan aspek komposisi ruang, pencahayaan, dan sirkulasi, yang semua merupakan domain penting dalam arsitektur interior. Koleksi barang tidak ditata sembarangan, melainkan diposisikan untuk membentuk focal point spasial, menciptakan pengalaman visual dan emosional yang kaya.
Karakteristik Visual dan Spasial Gaya Cluttercore
Dari sudut pandang arsitektural, cluttercore mengubah cara kita melihat fungsi dan estetika interior. Gaya ini menekankan personal storytelling melalui display koleksi, tetapi tetap mempertahankan prinsip dasar arsitektur: fungsi, proporsi, sirkulasi, dan pencahayaan.
Ciri visual dan spasial cluttercore:
-
Permukaan (meja, rak, dinding) dimanfaatkan maksimal sebagai area ekspresi personal.
-
Dinding menjadi kanvas naratif, penuh galeri foto dan karya seni dengan komposisi organik.
-
Warna dan pola yang berani digunakan untuk membentuk identitas ruang yang kuat.
-
Perpaduan furnitur lintas era dan gaya arsitektur, menciptakan kontras dan dinamika visual.
-
Lapisan tekstil berperan sebagai penghubung antar elemen ruang.
-
Tanaman ditempatkan sebagai elemen hidup yang menyatu dengan sirkulasi udara dan cahaya alami.
-
Zonasi ruang interior menjadi fleksibel dan adaptif terhadap fungsi koleksi.
Gaya cluttercore mendobrak aturan ketat color palette dan symmetry, dan justru menekankan pentingnya composition through chaos—asal tetap terkendali dan dirancang secara sadar.
Konteks Arsitektural: Cluttercore vs. Gaya Lain
Cluttercore sering disamakan dengan gaya maximalist, padahal dari sudut pandang arsitektur, keduanya memiliki basis konsep berbeda. Maximalism fokus pada grandeur dan kemewahan material. Eclectic mengutamakan pencampuran gaya dari berbagai era secara terstruktur. Sementara cluttercore menempatkan pengalaman personal dan makna emosional sebagai penggerak utama desain ruang.
Perbandingan arsitektural:
-
Maximalism: Material premium, simetri, dan bentuk monumental.
-
Eclectic: Komposisi arsitektur lintas gaya dengan aturan harmoni visual.
-
Cluttercore: Organik, adaptif, dan naratif—ruang berkembang dari koleksi pribadi, bukan blueprint semata.
Strategi Desain Cluttercore untuk Ruang Tamu
Dalam konteks perancangan ruang sosial, cluttercore mengajak arsitek dan desainer interior untuk membuka kemungkinan baru. Ruang tamu tidak lagi menjadi area steril untuk menerima tamu, melainkan area transisi personalitas penghuni kepada pengunjung.
-
Seating area menjadi pusat gravitasi sosial, dengan layering tekstil yang menciptakan kenyamanan spasial.
-
Dinding difungsikan sebagai interface visual, menyatukan artefak visual dalam pola bebas namun terarah.
-
Coffee table berfungsi ganda sebagai media penyimpanan sekaligus showcase koleksi—mengajak interaksi dan eksplorasi.
Ruang tamu cluttercore adalah manifestasi naratif arsitektur: tidak kaku, namun tetap terstruktur dalam bentuk dan fungsi.
Kamar Tidur Cluttercore: Eksplorasi Ruang Privat dalam Arsitektur
Kamar tidur cluttercore melampaui fungsi sebagai tempat istirahat. Ia menjadi ruang arsip hidup pribadi penghuni. Dari perspektif arsitektur interior, kamar tidur ini memperlihatkan bagaimana desain ruang bisa dihidupkan melalui layering, tekstur, dan skala objek.
-
Lapisan bedding dalam berbagai material dan warna memperkuat volume tempat tidur.
-
Permukaan nightstand dan lemari menjadi micro-gallery yang merepresentasikan fragmen kehidupan penghuni.
-
Pencahayaan redup dan bertingkat mendukung suasana ruang yang intim dan personal.
Ini adalah contoh interior yang tidak hanya “dihuni” tapi juga “menghidupi” penghuninya.
Dapur dan Ruang Makan: Integrasi Koleksi dan Fungsi
Dalam dapur cluttercore, arsitektur harus menjembatani antara fungsi sirkulasi yang efisien dan estetika kolektif barang. Oleh karena itu, perencanaan dapur cluttercore perlu mempertimbangkan:
-
Rak terbuka sebagai bagian dari sistem display dan sistem penyimpanan aktif.
-
Sirkulasi antara cooking zone – prep zone – serving zone tetap dipertahankan meski visualnya penuh.
-
Koleksi peralatan makan dan keramik ditata secara berlayer, tetapi tidak mengganggu akses.
Ini contoh bagaimana cluttercore mendorong arsitektur interior ke arah yang lebih humanis dan ekspresif, tanpa mengorbankan fungsi.
Cluttercore sebagai Tantangan dan Peluang Arsitektural
Mengadopsi cluttercore bukan berarti mengabaikan prinsip desain arsitektur. Sebaliknya, gaya ini mengajak arsitek untuk lebih peka terhadap pengalaman penghuni, nilai emosional objek, dan narasi personal dalam ruang.
Prinsip arsitektur yang tetap relevan dalam cluttercore:
-
Negative space: Dibutuhkan untuk keseimbangan dan napas visual.
-
Sirkulasi manusia dan udara: Harus tetap optimal meski ruang penuh objek.
-
Proporsi dan ritme ruang: Dijaga melalui pengelompokan koleksi dan pencahayaan.
-
Maintenance dan keberlanjutan: Cluttercore mendorong kepedulian terhadap barang, bukan pemborosan.
Kesimpulan: Arsitektur yang Bercerita
Cluttercore bukan hanya tren desain interior, tetapi sebuah manifesto arsitektural tentang makna ruang dan benda. Di era ketika rumah menjadi ekstensi identitas digital dan personal, cluttercore menjawab kebutuhan untuk menjadikan ruang lebih manusiawi, berlapis, dan penuh cerita.
Gaya ini bukan sekadar estetika—tapi juga strategi arsitektural dalam mendesain ruang hidup yang jujur, ekspresif, dan adaptif terhadap pengalaman penghuninya.
Eksplorasi lebih dalam Tentang topik: Arsitektur
Cobain Baca Artikel Lainnya Seperti: Grandmillennial Style: Tren Desain Rumah Klasik yang Kembali
