JAKARTA, inca-construction.co.id – Dunia bangunan memiliki banyak gaya yang memukau sepanjang sejarah. Moreover, di antara berbagai gaya tersebut, satu nama selalu menonjol. Gaya tersebut yaitu Arsitektur Beaux-Arts. Furthermore, gaya ini dikenal karena keindahan, kemegahan, dan hiasan yang sangat mewah. Bangunan bergaya ini tersebar di berbagai penjuru dunia.
Nama Beaux-Arts berasal dari bahasa Prancis yang berarti seni rupa. In addition, gaya ini lahir dari sekolah seni ternama di Paris bernama Ecole des Beaux-Arts. As a result, Arsitektur Beaux-Arts menjadi simbol kemewahan dan kekuasaan. Gaya ini sangat populer pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20. Banyak bangunan pemerintah dan museum di dunia menggunakan gaya megah ini.
Sejarah Lahirnya Arsitektur Beaux-Arts di Prancis

Arsitektur Beaux-Arts bermula di Prancis pada pertengahan abad ke-19. Specifically, empat arsitek muda menjadi pelopor gaya ini. Mereka yaitu Joseph-Louis Duc, Felix Duban, Henri Labrouste, dan Leon Vaudoyer. Keempat arsitek ini pernah belajar di Villa Medici di Roma.
Di Roma, mereka mempelajari bangunan Yunani dan Romawi kuno. Furthermore, sekembalinya ke Paris, mereka mempelajari gaya lain. Gaya Abad Pertengahan dan Renaisans turut mereka pelajari. Moreover, mereka lalu mengajar di Ecole des Beaux-Arts dengan pendekatan baru.
Peran Ecole des Beaux-Arts dalam Perkembangan Gaya Ini
Ecole des Beaux-Arts menjadi pusat lahirnya Arsitektur Beaux-Arts. Specifically, sekolah ini mengajarkan mahasiswa menggambar kolom dan pedimen. Mereka juga belajar tentang tata ruang yang megah. Penekanan pada pintu masuk besar dan urutan ruangan menjadi ciri khas.
Sekolah ini mengadakan lomba bergengsi bernama Grand Prix de Rome. Furthermore, pemenang lomba mendapat kesempatan belajar di Roma. Mereka bisa langsung mempelajari bangunan kuno di sana. Moreover, pengalaman ini sangat membentuk gaya desain mereka.
Berikut ini tonggak penting dalam sejarah Arsitektur Beaux-Arts:
- Tahun 1820-an, empat arsitek muda mulai mempelajari berbagai gaya bangunan di Roma
- Tahun 1844, Henri Labrouste membangun Perpustakaan Sainte-Genevieve di Paris
- Tahun 1861 hingga 1875, Charles Garnier membangun Palais Garnier atau Opera Paris
- Tahun 1893, Pameran Dunia di Chicago memperkenalkan gaya ini ke seluruh Amerika
- Tahun 1897 hingga 1900, Grand Palais dibangun untuk Pameran Dunia 1900 di Paris
- Tahun 1913, Grand Central Terminal di New York dibuka untuk umum
- Tahun 1929, gaya ini mulai memudar seiring datangnya masa resesi ekonomi besar
Also, puncak kejayaan Arsitektur Beaux-Arts berlangsung antara tahun 1885 hingga 1930. As a result, periode ini menghasilkan ratusan bangunan megah di Eropa dan Amerika.
Ciri Khas Arsitektur Beaux-Arts yang Mudah Dikenali
Arsitektur Beaux-Arts memiliki banyak ciri khas yang membedakannya dari gaya lain. Specifically, setiap bangunan bergaya ini memancarkan kemewahan dan keagungan. Beberapa ciri sangat mudah dikenali bahkan oleh orang awam.
Berikut ini ciri khas utama Arsitektur Beaux-Arts:
- Bentuk yang sangat simetris. Sisi kiri dan kanan bangunan terlihat seimbang dan seragam
- Kolom besar bergaya Yunani dan Romawi. Kolom Korintus dan Ionik paling sering digunakan
- Hiasan yang sangat mewah di setiap permukaan. Hampir tidak ada area yang dibiarkan polos
- Patung dan relief di dinding luar dan dalam bangunan
- Tangga besar dan megah sebagai pusat perhatian di bagian dalam
- Penggunaan batu marmer dan batu alam berkualitas tinggi
- Langit-langit tinggi dengan lukisan dinding atau mosaik
- Pintu masuk yang besar dan megah untuk menciptakan kesan agung
Additionally, gaya ini juga menggabungkan unsur dari berbagai zaman. In particular, gaya Romawi, Renaisans, dan Barok berpadu dalam satu bangunan.
Bahan dan Teknologi dalam Arsitektur Beaux-Arts
Meskipun tampilannya bergaya kuno, Arsitektur Beaux-Arts justru menggunakan teknologi modern. Specifically, rangka besi dan baja menjadi tulang punggung banyak bangunan bergaya ini. Kolom dan dinding batu hanya berfungsi sebagai hiasan luar.
Grand Palais di Paris menjadi contoh sempurna. Furthermore, bangunan ini memiliki rangka besi modern di dalamnya. Kolom batu di luarnya murni sebagai hiasan. Moreover, kubah kaca raksasa di atasnya juga memanfaatkan teknologi baru saat itu.
Berikut ini bahan dan teknologi yang digunakan:
- Rangka besi dan baja ringan sebagai penopang utama bangunan
- Beton bertulang untuk fondasi dan lantai yang lebih kokoh
- Batu marmer, granit, dan batu pasir untuk pelapis dinding luar
- Kaca dalam ukuran besar untuk kubah, jendela atap, dan kanopi
- Teknik batu bertingkat atau rustikasi pada bagian dasar bangunan
- Ubin Guastavino untuk kubah dan lengkungan di dalam bangunan
Also, perpaduan teknologi modern dan tampilan klasik menjadi keunggulan Arsitektur Beaux-Arts. For example, bangunan bisa terlihat megah seperti kuil kuno namun tetap kokoh dan tahan lama.
Bangunan Terkenal Bergaya Arsitektur Beaux-Arts di Prancis
Prancis sebagai tempat lahirnya gaya ini memiliki banyak bangunan megah. Specifically, dua bangunan paling terkenal yaitu Palais Garnier dan Grand Palais. Keduanya menjadi ikon kota Paris hingga saat ini.
Palais Garnier atau Opera Paris
Palais Garnier dianggap sebagai puncak Arsitektur Beaux-Arts di seluruh dunia. Furthermore, bangunan ini dirancang oleh Charles Garnier. Pembangunan berlangsung dari tahun 1861 hingga 1875. Moreover, Kaisar Napoleon III yang meminta pembangunan gedung opera ini.
Berikut ini keistimewaan Palais Garnier:
- Tangga besar dari marmer putih, onyx, dan marmer hijau serta merah
- Tiga puluh kolom marmer ukiran tangan mengelilingi tangga utama
- Lampu gantung raksasa seberat enam ton dari perunggu dan kristal di ruang pertunjukan
- Patung-patung komponis terkenal termasuk Beethoven dan Mozart di bagian depan
- Lukisan langit-langit karya Isidore Pils dan mosaik bergaya Bizantium
- Panjang bangunan mencapai 155 meter dengan lebar mencapai 101 meter
Additionally, Palais Garnier menjadi latar cerita terkenal Phantom of the Opera. In particular, adegan jatuhnya lampu gantung dalam novel tersebut terinspirasi dari lampu asli di gedung ini.
Grand Palais di Paris
Grand Palais dibangun untuk Pameran Dunia tahun 1900. Specifically, empat arsitek bekerja sama merancang bangunan raksasa ini. Mereka yaitu Henri Deglane, Albert Louvet, Albert Thomas, dan Charles Girault.
Berikut ini keistimewaan Grand Palais:
- Kubah kaca raksasa yang menjadi salah satu yang terbesar di dunia
- Perpaduan gaya klasik pada dinding batu dan Art Nouveau pada rangka besi
- Patung perunggu kereta empat kuda atau quadriga di atas setiap sayap bangunan
- Kolom dan hiasan relief bergaya Romawi pada seluruh permukaan luar
- Setelah empat tahun ditutup untuk pemugaran, Grand Palais dibuka kembali pada Juni 2025
- Biaya pemugaran mencapai 466 juta euro dengan peningkatan kapasitas sebesar 140 persen
Also, Grand Palais pernah menjadi tempat pertandingan anggar dan taekwondo saat Olimpiade Paris 2024. As a result, bangunan berusia lebih dari satu abad ini tetap relevan hingga saat ini.
Bangunan Bergaya Arsitektur Beaux-Arts di Amerika Serikat
Amerika Serikat menjadi negara yang paling banyak mengadopsi Arsitektur Beaux-Arts di luar Prancis. Specifically, Richard Morris Hunt menjadi arsitek Amerika pertama yang belajar di Ecole des Beaux-Arts. Sekembalinya ke Amerika, ia menyebarkan gaya ini ke seluruh negeri.
Pameran Dunia Chicago 1893
Pameran Dunia di Chicago pada tahun 1893 menjadi titik balik besar. Furthermore, pameran ini dijuluki White City atau Kota Putih. Bangunan-bangunan bergaya Romawi klasik berwarna putih tersebar di taman luas. Moreover, jutaan pengunjung terpesona oleh kemegahan yang mereka saksikan.
Pameran ini memberikan dampak luar biasa pada Arsitektur Beaux-Arts di Amerika:
- Kota-kota besar di seluruh Amerika berlomba merancang ulang pusat kota mereka
- Gerakan City Beautiful atau Kota Indah lahir dan menyebar ke banyak kota
- Bangunan pemerintah, bank, dan stasiun kereta bergaya Beaux-Arts bermunculan
- Arsitek ternama seperti Daniel Burnham dan Charles McKim semakin terkenal
Bangunan Terkenal di Amerika dengan Arsitektur Beaux-Arts
Berikut ini bangunan paling terkenal bergaya Arsitektur Beaux-Arts di Amerika:
- Grand Central Terminal di New York yang dibuka tahun 1913. Langit-langit bergambar rasi bintang menjadi daya tarik utamanya
- Perpustakaan Umum New York yang dibangun dari tahun 1895. Koleksinya terbesar kedua setelah Perpustakaan Kongres
- Gedung Perpustakaan Kongres Thomas Jefferson di Washington. Gedung ini menjadi contoh sempurna gaya Beaux-Arts yang meriah
- Carnegie Hall di New York. Gedung konser ini dibangun oleh dermawan baja Andrew Carnegie
- The Breakers di Rhode Island. Rumah megah milik keluarga Vanderbilt ini menunjukkan bahwa gaya ini juga digunakan untuk hunian pribadi
Additionally, gedung-gedung kantor Senat dan DPR Amerika juga menggunakan gaya ini. In particular, firma Carrere and Hastings merancang dua gedung yang serasi dengan Gedung Capitol.
Penyebaran Arsitektur Beaux-Arts ke Seluruh Dunia
Arsitektur Beaux-Arts tidak hanya terbatas di Prancis dan Amerika. Specifically, gaya ini menyebar ke berbagai benua seiring meluasnya pengaruh Eropa. Banyak negara mengadopsi gaya ini untuk bangunan pemerintah dan budaya mereka.
Berikut ini penyebaran Arsitektur Beaux-Arts di dunia:
- Argentina memiliki banyak bangunan bergaya ini terutama di Buenos Aires. Teatro Colon menjadi contoh paling megah
- Belgia memiliki Museum Afrika di Tervuren dan kompleks Cinquantenaire di Brussels
- Meksiko membangun Palacio de Bellas Artes di Mexico City dengan gaya ini
- Vietnam memiliki Gedung Opera Hanoi yang dibangun pada masa kolonial Prancis antara tahun 1901 hingga 1911
- Brasil membangun Teatro Municipal di Rio de Janeiro yang terinspirasi dari Palais Garnier
- Jerman mengadopsi gaya ini bersama gaya Barok untuk banyak bangunan publik
- India memiliki Chhatrapati Shivaji Terminus di Mumbai yang memadukan gaya Beaux-Arts dengan hiasan Indo-Gotik
Also, penyebaran gaya ini berkaitan erat dengan masa kolonial dan perdagangan global. Furthermore, setiap negara menambahkan sentuhan lokal pada bangunan bergaya ini.
Perbedaan Arsitektur Beaux-Arts dengan Gaya Klasik Lainnya
Banyak orang sering bingung membedakan Arsitektur Beaux-Arts dengan gaya klasik lainnya. Specifically, gaya ini memang menggunakan unsur Yunani dan Romawi. Namun terdapat perbedaan penting yang perlu dipahami.
Arsitektur Beaux-Arts vs Neoklasik
Gaya Neoklasik cenderung lebih sederhana dan menahan diri. Furthermore, gaya ini fokus pada kemurnian bentuk klasik. Moreover, Arsitektur Beaux-Arts justru menambahkan hiasan berlebih di setiap permukaan.
Berikut ini perbedaan utamanya:
- Neoklasik menggunakan hiasan secara hemat. Arsitektur Beaux-Arts menggunakan hiasan secara berlimpah
- Neoklasik meniru bentuk Yunani dan Romawi dengan setia. Arsitektur Beaux-Arts mencampur berbagai gaya sekaligus
- Neoklasik terlihat tenang dan teratur. Arsitektur Beaux-Arts terlihat dramatis dan teatrikal
- Neoklasik jarang menggunakan patung berlebih. Arsitektur Beaux-Arts dipenuhi patung, relief, dan mural
Arsitektur Beaux-Arts vs Gaya Victoria
Gaya Victoria populer sebelum Arsitektur Beaux-Arts berkembang. Additionally, gaya Victoria menyukai bentuk yang tidak simetris. Pola dan corak yang beragam menjadi ciri khasnya. In particular, Arsitektur Beaux-Arts justru menekankan keseimbangan dan keteraturan yang ketat.
Pengaruh Arsitektur Beaux-Arts terhadap Perencanaan Kota
Arsitektur Beaux-Arts tidak hanya memengaruhi desain bangunan tunggal. Specifically, gaya ini juga mengubah cara kota-kota besar dirancang. Gerakan City Beautiful di Amerika sangat dipengaruhi oleh prinsip perencanaan Beaux-Arts.
Berikut ini pengaruh gaya ini terhadap perencanaan kota:
- Jalan-jalan lebar dan lurus yang menghubungkan bangunan-bangunan penting
- Taman dan ruang terbuka hijau yang tertata rapi di pusat kota
- Penempatan bangunan publik di lokasi yang mudah terlihat dan mudah dijangkau
- Sumbu utama atau poros jalan yang menghubungkan titik-titik penting kota
- Pemandangan dan sudut pandang yang dirancang untuk memperlihatkan bangunan utama dari kejauhan
Additionally, rencana kota Washington D.C. oleh Pierre L’Enfant sangat mencerminkan prinsip ini. Furthermore, Chicago, Cleveland, dan San Francisco juga mengadopsi perencanaan bergaya Beaux-Arts.
Kemunduran dan Warisan Arsitektur BeauxArts
Arsitektur Beaux-Arts mulai kehilangan kepopuleran pada akhir tahun 1920-an. Specifically, beberapa faktor menyebabkan kemunduran gaya megah ini. Perubahan zaman membawa selera baru dalam dunia bangunan.
Berikut ini penyebab kemunduran Arsitektur Beaux-Arts:
- Resesi ekonomi besar atau Great Depression pada tahun 1929 membuat pembangunan bangunan mahal tidak masuk akal
- Gerakan arsitektur modern menawarkan gaya yang lebih sederhana dan fungsional
- Bahan bangunan baru seperti kaca dan baja mendorong gaya yang lebih minimalis
- Biaya pembangunan dan hiasan yang sangat mahal tidak lagi terjangkau
- Perubahan selera masyarakat yang mulai menolak kemewahan berlebihan
Warisan Abadi Arsitektur BeauxArts di Dunia Modern
Meskipun tidak lagi populer untuk bangunan baru, warisan gaya ini tetap hidup. Furthermore, ratusan bangunan bergaya ini masih berdiri kokoh di seluruh dunia. Moreover, banyak di antaranya menjadi landmark dan dilindungi sebagai bangunan bersejarah.
Berikut ini warisan penting Arsitektur BeauxArts:
- Prinsip perencanaan ruang dan tata letak masih digunakan dalam pendidikan bangunan hingga saat ini
- Bangunan bergaya ini menjadi tujuan wisata utama di kota-kota besar dunia
- Pemugaran bangunan Beaux-Arts menjadi tren penting. Grand Palais dipugar dengan biaya 466 juta euro dan dibuka kembali tahun 2025
- Gaya ini memengaruhi perkembangan Art Deco dan gaya bangunan neoklasik modern
- Konsep bahwa bangunan publik harus memancarkan keagungan dan martabat berasal dari prinsip Arsitektur Beaux-Arts
Also, nilai penting Arsitektur BeauxArts terletak pada keyakinannya bahwa bangunan bukan sekadar tempat berlindung. In particular, bangunan harus menjadi karya seni yang mengangkat semangat dan kebanggaan masyarakat yang membangunnya.
Kesimpulan
Arsitektur Beaux-Arts merupakan gaya bangunan klasik paling megah yang pernah ada. Gaya ini lahir di Prancis pada pertengahan abad ke-19 dari Ecole des Beaux-Arts. Moreover, ciri khasnya meliputi bentuk simetris, kolom besar, hiasan mewah, patung, dan tangga megah. Bangunan bergaya ini tersebar dari Paris hingga New York, Buenos Aires, dan Hanoi.
Furthermore, meskipun kepopulerannya menurun setelah tahun 1929, warisan Arsitektur Beaux-Arts tetap abadi. Palais Garnier, Grand Palais, dan Grand Central Terminal masih berdiri kokoh sebagai bukti kejayaan gaya ini. In conclusion, prinsip bahwa bangunan publik harus memancarkan keindahan dan keagungan tetap relevan hingga saat ini. Additionally, pemugaran Grand Palais selesai pada tahun 2025. Fakta ini membuktikan bahwa gaya berusia lebih dari satu abad ini masih dicintai dunia modern.
Eksplorasi lebih dalam Tentang topik: Arsitektur
Cobain Baca Artikel Lainnya Seperti: Shingle Style Architecture: Gaya Hunian Klasik Amerika
