JAKARTA, inca-construction.co.id – Bayangkan sebuah rumah besar di pesisir timur Amerika Serikat. Dinding dan atapnya dibalut kayu sirap dari atas hingga bawah. Moreover, bangunan itu tampak menyatu dengan pantai berbatu di sekitarnya. Inilah shingle style architecture, sebuah gaya desain hunian yang lahir pada akhir abad ke-19.
Gaya arsitektur sirap ini bukan sekadar tren sesaat. In fact, selama lebih dari satu abad, gaya ini terus berkembang dan masih menjadi sumber ide bagi banyak arsitek modern. Di Indonesia sendiri, minat terhadap konsep hunian ini mulai tumbuh. For example, para pecinta desain kini mencari gaya rumah dengan karakter kuat serta kedekatan terhadap alam. Therefore, memahami gaya arsitektur sirap menjadi langkah awal yang tepat.
Akar Sejarah Shingle Style Architecture di Amerika

Gaya arsitektur ini pertama kali muncul di kawasan New England sekitar tahun 1880-an. However, kelahirannya bukan terjadi begitu saja. Gaya ini merupakan hasil campuran dari beberapa aliran desain yang lebih dulu ada. For instance, pengaruh Queen Anne, Colonial Revival, dan gerakan Arts and Crafts melebur menjadi satu gaya baru yang segar.
Beberapa arsitek besar yang menjadi pelopor gaya arsitektur ini antara lain:
- Henry Hobson Richardson dianggap sebagai bapak pendiri gaya ini berkat karya besarnya di berbagai rumah di New England
- McKim, Mead, and White membawa konsep arsitektur sirap menjadi lebih halus dan elegan di kawasan Newport, Rhode Island
- William Ralph Emerson terkenal karena desainnya sangat alami dan selaras dengan kondisi tanah sekitar
- Bruce Price membawa gaya ini ke Tuxedo Park, New York, dengan tafsiran yang lebih berani
Furthermore, para arsitek tersebut memiliki pandangan yang sama. Bangunan tidak boleh berdiri terpisah dari alam. Instead, rumah harus melebur dengan tanah dan tanaman di sekitarnya. As a result, pandangan ini menjadi pembeda utama gaya arsitektur sirap dari gaya lain yang lebih kaku.
Ciri Khas yang Membentuk Shingle Style Architecture
Mengenali gaya arsitektur ini tidak terlalu sulit. Gaya ini punya ciri tampilan yang sangat khas. Additionally, setiap bagian bangunan dirancang agar terlihat menyatu dan mengalir dari satu sisi ke sisi lainnya.
Berikut ciri utama yang menjadi penanda gaya arsitektur ini:
- Lapisan kayu sirap menyeluruh menutup dinding luar dan atap tanpa jeda sehingga bangunan terlihat seperti satu bentuk utuh
- Atap gambrel atau gable dengan sudut cukup tajam dan sering dilengkapi jendela dormer untuk menambah kesan menarik
- Bentuk bangunan yang tidak simetris dengan massa yang terkesan bebas dan tidak terikat pada pola kaku
- Teras terbuka yang luas mengelilingi rumah dan menjadi ruang peralihan antara dalam dan luar
- Jendela besar dengan bingkai kayu ditata tidak beraturan namun tetap terasa seimbang
- Menara atau turret pada desain yang lebih megah untuk memberi kesan tinggi pada bangunan
- Batu alam pada bagian dasar memberi perbedaan tekstur dengan kayu sirap di bagian atas
In contrast, gaya Victorian lebih banyak memakai hiasan rumit. Meanwhile, arsitektur sirap justru menonjolkan keindahan bahan yang polos dan bentuk yang jujur. Therefore, gaya ini terasa lebih hangat dan ramah.
Dasar Pikiran di Balik Keindahan Arsitektur Sirap
Di balik tampilan luarnya yang indah, shingle style architecture punya dasar pikiran yang sangat kuat. First, para arsitek percaya bahwa rumah tidak boleh mendominasi alam. Second, rumah harus menjadi bagian dari pemandangan alam itu sendiri.
Moreover, konsep ruang terbuka yang kini sangat populer sudah diterapkan dalam gaya ini sejak lebih dari seratus tahun lalu. Ruang-ruang di dalam rumah dibuat mengalir tanpa sekat kaku. As a result, penghuni bisa merasakan suasana yang luas dan bebas. Hall besar di tengah rumah menjadi pusat kegiatan yang menghubungkan seluruh area.
In addition, gaya ini juga sangat peduli pada hubungan antara ruang dalam dan luar. Teras luas bukan sekadar hiasan. Instead, teras berfungsi sebagai tempat menikmati alam sambil tetap terlindung dari cuaca. Konsep ini kini dikenal sebagai desain yang dekat dengan alam. However, para arsitek sirap sudah menerapkannya jauh sebelum istilah itu diciptakan.
Bahan dan Cara Membangun Shingle Style Architecture
Pemilihan bahan menjadi hal paling penting dalam gaya arsitektur sirap. Kayu sirap yang dipakai bukan sembarang kayu. Furthermore, ada proses pemilihan yang cukup ketat agar hasilnya tahan lama.
Jenis kayu yang paling sering dipakai untuk gaya arsitektur ini meliputi:
- Cedar menjadi pilihan paling populer karena tahan terhadap air dan serangan serangga secara alami
- Redwood memiliki warna merah yang indah dan sangat tahan terhadap pelapukan
- White oak digunakan untuk bagian rangka utama karena sangat kuat
- Pine dipakai untuk bagian dalam rumah dan sentuhan akhir
Additionally, cara memasang kayu sirap juga butuh keahlian khusus. Setiap lembar sirap ditumpuk dengan pola tertentu. This ensures that air hujan mengalir sempurna tanpa masuk ke dalam dinding. Pola tumpukan bisa bermacam-macam. For example, ada pola sisik ikan, berlian, dan gigi gergaji.
For the foundation, batu alam hampir selalu dipakai pada bagian dasar bangunan. Bahan ini memberi kesan kokoh di bawah. Meanwhile, kayu sirap di bagian atas memberi kesan ringan dan alami. As a result, tercipta paduan tampilan yang sangat menarik dari bawah ke atas.
Pengaruh Arsitektur Sirap terhadap Desain Masa Kini
Although gaya ini lahir di era Victoria, pengaruhnya terhadap desain modern sangat besar. In fact, banyak konsep yang pertama kali muncul dalam gaya arsitektur sirap kini menjadi dasar bagi aliran desain abad ke-20 dan ke-21.
Robert Venturi, tokoh besar dunia desain, mengakui bahwa shingle style architecture menjadi salah satu sumber idenya. Similarly, Frank Lloyd Wright juga terinspirasi oleh cara gaya ini menyatukan rumah dengan alam. Therefore, pengaruh gaya arsitektur sirap tidak bisa dianggap kecil.
Dalam praktik desain saat ini, bagian dari gaya ini sering dipakai ulang. Beberapa bentuk yang paling sering ditemukan antara lain:
- Pemakaian sirap kayu pada dinding rumah modern sebagai pemberi kesan hangat
- Penerapan konsep ruang terbuka yang terinspirasi dari tata ruang gaya arsitektur ini
- Teras dan area setengah terbuka sebagai penghubung antara dalam rumah dan alam luar
- Pemakaian bahan alami sebagai bagian utama pada tampilan luar maupun dalam
- Bentuk bangunan yang tidak simetris namun tetap seimbang dan enak dipandang
Furthermore, di Indonesia beberapa arsitek sudah mulai memakai konsep ini. Also, mereka menerapkannya terutama untuk rumah di kawasan pegunungan atau pantai. However, bahan yang dipakai tentu disesuaikan dengan cuaca tropis dan kayu yang tersedia di daerah setempat.
Bangunan Terkenal Bergaya Shingle Style Architecture
Sejumlah bangunan bergaya arsitektur sirap telah menjadi ikon dunia. Moreover, setiap bangunan punya cerita dan latar belakang yang menarik.
Beberapa bangunan paling terkenal yang sering dijadikan rujukan meliputi:
- Kragsyde House di Massachusetts, karya Peabody and Stearns, berdiri menempel di tebing batu dan dianggap sebagai salah satu mahakarya terbesar
- Isaac Bell House di Newport, Rhode Island, karya McKim, Mead, and White, kini menjadi museum terbuka bagi masyarakat
- William Low House di Bristol, Rhode Island, terkenal dengan atap gambrel besarnya yang hampir menyentuh tanah di kedua sisi
- Watts Sherman House di Newport, karya H.H. Richardson, sering disebut sebagai bangunan pertama yang membawa gaya arsitektur sirap ke dunia luas
Consequently, mengunjungi bangunan ini secara langsung memberi pengalaman yang jauh berbeda. Skala, tekstur, dan hubungan rumah dengan alamnya hanya bisa benar-benar dirasakan saat berdiri di depannya.
Tips Menerapkan Gaya Arsitektur Sirap untuk Rumah Tropis
Bagi yang ingin memakai gaya arsitektur ini di Indonesia, ada beberapa hal penting yang perlu dipikirkan. For instance, cuaca tropis yang panas dan lembap sangat berbeda dengan pesisir New England. Therefore, penyesuaian bahan dan desain menjadi kunci utama.
Berikut beberapa tips yang bisa diterapkan:
- Ganti cedar dengan kayu lokal tahan cuaca seperti jati, merbau, atau ulin yang kuat terhadap lembap dan rayap
- Perbesar ukuran teras karena cuaca tropis memungkinkan pemakaian ruang luar sepanjang tahun
- Tambahkan banyak bukaan pada dinding dan atap agar udara bisa mengalir dengan lancar
- Pertahankan atap miring dengan tepian yang lebih lebar untuk melindungi dinding kayu dari hujan
- Padukan sirap kayu dengan batu kali atau bata pada bagian dasar rumah agar tercipta paduan tekstur
- Gunakan pelapis pelindung sinar matahari pada semua permukaan kayu luar agar tidak cepat rusak
Additionally, berkonsultasi dengan arsitek yang paham desain setempat sangat disarankan. As a result, desain rumah tidak hanya indah tetapi juga nyaman dan tahan lama.
Kesimpulan
Shingle style architecture menawarkan lebih dari sekadar keindahan tampilan luar. Dasar pikiran desainnya yang menekankan keselarasan dengan alam dan kejujuran bahan tetap kuat hingga saat ini. Moreover, meskipun gaya arsitektur sirap ini lahir di pesisir timur Amerika lebih dari satu abad lalu, konsepnya terus hidup di berbagai negara. Finally, bagi siapa saja yang ingin merancang rumah dengan karakter kuat dan kedekatan terhadap alam, mempelajari gaya ini bisa menjadi langkah awal yang sangat berharga.
Eksplorasi lebih dalam Tentang topik: Arsitektur
Cobain Baca Artikel Lainnya Seperti: Googie Architecture Gaya Bangunan Futuristik Era Luar Angkasa
