Post Digital Architecture

JAKARTA, inca-construction.co.id – Post Digital Architecture menjadi perbincangan hangat di kalangan arsitek dan perancang bangunan di seluruh dunia. Pendekatan ini muncul sebagai jawaban atas kejenuhan terhadap dominasi teknologi murni dalam proses perancangan. Banyak praktisi kini menyadari bahwa masa depan arsitektur bukan tentang memilih antara cara tradisional atau cara berbasis komputer, melainkan tentang memadukan keduanya secara cerdas.

Konsep ini pertama kali dibahas secara luas oleh Mario Carpo, seorang profesor sejarah dan teori arsitektur di Bartlett UCL London. Dalam berbagai tulisannya, Carpo menjelaskan bahwa era post digital bukan berarti meninggalkan teknologi, tetapi justru memahami teknologi secara lebih mendalam dan kritis. Arsitek masa kini perlu melampaui sekadar penggunaan perangkat lunak dan mulai mempertanyakan dampak budaya dari alat yang mereka gunakan setiap hari.

Pengertian Post Digital Architecture dalam Dunia Perancangan

Post Digital Architecture

Post Digital Architecture merupakan pendekatan desain yang mengakui bahwa teknologi telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Istilah ini tidak berarti melampaui atau menentang teknologi, melainkan memahami bahwa kita hidup di era ketika perangkat lunak dan perangkat keras telah menyatu dengan aktivitas rutin. Layaknya udara yang kita hirup, keberadaan teknologi sudah tidak lagi terasa asing atau istimewa.

Dalam konteks arsitektur, pendekatan ini mendorong perancang untuk bersikap lebih kritis terhadap alat yang mereka gunakan. Ketika AutoCAD, SketchUp, Revit, dan Rhino menjadi standar industri, arsitek perlu memahami bagaimana perangkat lunak tersebut membentuk cara berpikir dan berkreasi mereka. Pemahaman ini membuka ruang untuk bereksperimen dengan cara baru yang memadukan ketepatan mesin dengan kepekaan manusia.

Beberapa ahli menyebut Post Digital Architecture sebagai perpaduan antara dunia maya dan dunia nyata. Pengalaman ruang tidak lagi terbatas pada fisik bangunan, tetapi juga mencakup lapisan informasi yang dapat diakses melalui perangkat pintar. Bangunan menjadi entitas yang hidup dan responsif terhadap penggunanya.

Sejarah Post Digital Architecture dan Perkembangannya

Gerakan Post Digital Architecture memiliki akar yang dapat ditelusuri hingga awal tahun 2000-an. Saat itu, generasi pertama arsitektur berbasis komputer telah mencapai puncaknya dengan karya seperti Guggenheim Bilbao rancangan Frank Gehry. Bentuk lengkung dan permukaan kompleks yang mustahil dibuat secara manual kini dapat diwujudkan berkat perangkat lunak CATIA dan teknologi fabrikasi terbaru.

Namun seiring waktu, muncul kejenuhan terhadap estetika blob dan bentuk organik yang menjadi ciri khas era tersebut. Banyak arsitek mulai mempertanyakan apakah teknologi hanya menghasilkan bentuk rumit tanpa makna yang mendalam. Pertanyaan ini mendorong lahirnya pemikiran post digital yang lebih kritis dan reflektif.

Pada tahun 2017, Carpo menerbitkan buku berjudul The Second Digital Turn yang menandai babak baru pemikiran arsitektur berbasis komputer. Ia membedakan antara gelombang pertama yang berfokus pada bentuk lengkung dan gelombang kedua yang memanfaatkan kecerdasan buatan serta data besar. Gelombang kedua ini membuka kemungkinan desain yang tidak lagi bergantung pada rumus matematis sederhana.

Institusi pendidikan terkemuka seperti Southern California Institute of Architecture, Bartlett School of Architecture, dan ETH Zurich kini aktif mengembangkan kurikulum berbasis pendekatan post digital. Mahasiswa tidak hanya belajar mengoperasikan perangkat lunak, tetapi juga memahami dampak budaya dan sosial dari teknologi yang mereka gunakan.

Ciri Khas Post Digital Architecture yang Membedakannya

Pendekatan ini memiliki sejumlah ciri yang membedakannya dari arsitektur berbasis komputer konvensional:

  • Pemaduan teknik tradisional dan teknologi canggih dalam satu alur kerja yang mulus
  • Sikap kritis terhadap alat dan perangkat lunak yang digunakan sehari-hari
  • Perhatian terhadap dampak sosial dan budaya dari keputusan desain
  • Pemanfaatan robot dan mesin cetak tiga dimensi dengan sentuhan kerajinan tangan
  • Fokus pada pengalaman pengguna yang menyeluruh mencakup aspek fisik dan maya
  • Keterbukaan terhadap ketidakpastian dan penyesuaian selama proses pembangunan
  • Perpaduan antara ketepatan mesin dan keunikan buatan tangan

Estetika Post Digital Architecture cenderung kasar, tidak sempurna, dan menunjukkan jejak proses pembuatan. Berbeda dengan rendering halus dan mengkilap yang mendominasi presentasi arsitektur konvensional, karya post digital justru merayakan tekstur dan variasi yang muncul dari interaksi antara mesin dan bahan.

Perbedaan Post Digital Architecture dengan Arsitektur Konvensional

Arsitektur berbasis komputer konvensional atau Digital Architecture memperlakukan teknologi sebagai alat untuk mencapai tujuan tertentu. Perancang menggunakan perangkat lunak untuk menggambar, memodelkan, dan memvisualisasikan ide mereka. Fokusnya terletak pada efisiensi dan ketepatan dalam menghasilkan dokumen konstruksi.

Sementara itu, Post Digital Architecture memandang teknologi sebagai bagian dari budaya yang lebih luas. Pendekatan ini tidak hanya bertanya bagaimana menggunakan alat, tetapi juga mengapa dan apa dampaknya. Perancang post digital menyadari bahwa setiap perangkat lunak membawa asumsi dan batasan tertentu yang mempengaruhi hasil akhir.

Berikut perbandingan kedua pendekatan tersebut:

Aspek Digital Architecture Post Digital Architecture
Pandangan terhadap teknologi Alat untuk mencapai tujuan Bagian dari budaya yang perlu dikritisi
Fokus utama Efisiensi dan ketepatan Pengalaman dan makna
Estetika Halus dan sempurna Kasar dan menunjukkan proses
Peran manusia Operator perangkat lunak Kolaborator dengan mesin
Hasil akhir Produk jadi Proses berkelanjutan

Teknologi Pendukung Post Digital Architecture

Para praktisi Post Digital Architecture memanfaatkan berbagai teknologi mutakhir dalam pekerjaan mereka. Berikut beberapa teknologi yang paling banyak digunakan dalam pendekatan arsitektur post digital:

  1. Robot industri yang dapat diprogram untuk tugas fabrikasi khusus seperti pengelasan, pemotongan, dan perakitan
  2. Mesin cetak tiga dimensi dengan berbagai bahan mulai dari plastik hingga beton dan tanah liat
  3. Pemindai laser untuk mendokumentasikan kondisi tapak dan bangunan yang sudah ada
  4. Perangkat lunak berbasis kecerdasan buatan untuk menghasilkan pilihan desain secara otomatis
  5. Sistem Building Information Modeling untuk mengelola informasi bangunan secara terpadu
  6. Teknologi Augmented Reality dan Virtual Reality untuk presentasi dan pengalaman ruang
  7. Sensor dan perangkat Internet of Things untuk bangunan pintar yang responsif

Di MIT, peneliti telah mengembangkan sistem yang memungkinkan pengguna memerintahkan robot melalui suara untuk membuat objek fisik. Sistem ini menggabungkan pengenalan suara, kecerdasan buatan pembentuk tiga dimensi, dan lengan robot untuk mewujudkan furnitur dalam hitungan menit. Pencapaian ini menunjukkan potensi besar teknologi post digital dalam mengubah cara kita membuat benda.

Penerapan Post Digital Architecture dalam Proyek Nyata

Beberapa proyek arsitektur telah menerapkan prinsip Post Digital Architecture dengan hasil yang menarik:

  • Glass Farm oleh MVRDV di Belanda menampilkan seluruh fasad yang dicetak dengan gambar rumah pertanian tradisional, memadukan nostalgia dengan teknologi cetak kaca mutakhir
  • Cloud Pergola di Venice Architecture Biennale merupakan salah satu struktur cetak tiga dimensi terbesar yang dibuat dengan lengan robot yang dapat menyesuaikan diri terhadap perilaku bahan
  • MycoMuseum di Venice Architecture Biennale 2025 menggunakan jamur miselium sebagai bahan bangunan yang ditumbuhkan dengan bantuan robot dan kecerdasan buatan
  • Proyek rumah cetak tiga dimensi oleh ICON di Amerika Serikat menunjukkan bagaimana teknologi dapat mempercepat pembangunan hunian terjangkau

Studio Mamou-Mani di London menjadi contoh praktik arsitektur post digital yang menarik. Alih-alih dipenuhi deretan komputer seperti kantor arsitektur pada umumnya, studio mereka penuh dengan peralatan, mesin, pencetak tiga dimensi, dan berbagai purwarupa dalam berbagai tahap penyelesaian. Mereka mengembangkan robot bernama Polibot yang dapat membangun struktur menggunakan kabel.

Tokoh Penting di Balik Post Digital Architecture

Beberapa nama penting telah berkontribusi dalam pengembangan pemikiran Post Digital Architecture:

  • Mario Carpo sebagai teoretikus utama yang menulis The Second Digital Turn dan berbagai esai berpengaruh
  • Alisa Andrasek yang memimpin penelitian di Bartlett dan merancang Cloud Pergola
  • Gilles Retsin yang mengembangkan konsep Discrete Architecture dan pabrik mikro
  • Liam Young yang menggabungkan arsitektur dengan penceritaan dan budaya populer
  • Neil Gershenfeld dari MIT yang mengembangkan konsep fabrikasi personal

Institusi pendidikan yang menjadi pusat pengembangan Post Digital Architecture meliputi Bartlett UCL London, Southern California Institute of Architecture, ETH Zurich, dan MIT Center for Bits and Atoms. Lembaga ini tidak hanya mengajarkan keterampilan teknis tetapi juga mendorong pemikiran kritis terhadap teknologi.

Kelebihan Pendekatan Post Digital dalam Praktik

Penerapan prinsip Post Digital Architecture membawa sejumlah keuntungan bagi praktik arsitektur:

  • Hubungan lebih erat antara perancangan dan pembangunan karena arsitek terlibat langsung dalam proses fabrikasi
  • Kemampuan mewujudkan bentuk rumit yang mustahil dibuat dengan cara konvensional
  • Pengurangan limbah konstruksi melalui perencanaan berbasis data yang lebih tepat
  • Fleksibilitas untuk menyesuaikan desain selama proses pembangunan berlangsung
  • Penciptaan bangunan yang responsif dan dapat beradaptasi dengan kondisi lingkungan
  • Demokratisasi proses desain dengan melibatkan lebih banyak pihak dalam pengambilan keputusan
  • Potensi penggunaan bahan berkelanjutan seperti miselium dan bambu dengan teknologi canggih

Penelitian dari berbagai sumber menunjukkan bahwa fabrikasi berbasis robot dalam Post Digital Architecture dapat menghemat biaya hingga 20 persen dibandingkan konstruksi tradisional. Selain itu, kecepatan pembangunan meningkat secara signifikan karena mesin dapat bekerja tanpa henti dengan tingkat ketepatan yang konsisten.

Tantangan PostDigital Architecture di Lapangan

Meskipun menjanjikan, Post Digital Architecture juga menghadapi sejumlah tantangan:

  • Biaya investasi awal untuk peralatan dan pelatihan yang cukup tinggi
  • Kesenjangan akses antara negara maju dan berkembang dalam hal teknologi canggih
  • Kekhawatiran tentang privasi dan keamanan data pada bangunan pintar
  • Pertanyaan tentang peran tenaga kerja manusia ketika robot mengambil alih tugas konstruksi
  • Risiko ketergantungan berlebihan pada teknologi yang dapat usang dengan cepat
  • Ketidakpastian tentang daya tahan jangka panjang bangunan yang dibuat dengan cara baru

Mario Carpo sendiri mengkritik beberapa interpretasi post digital yang terlalu menekankan kolase dan estetika retro tanpa memahami potensi sebenarnya dari teknologi baru. Menurutnya, siklus inovasi masih berlanjut dan arsitek perlu terus mengikuti perkembangan terbaru.

Tren Masa Depan PostDigital Architecture

Beberapa arah perkembangan yang akan membentuk masa depan Post Digital Architecture:

  1. Integrasi kecerdasan buatan dalam setiap tahap desain mulai dari konsep hingga konstruksi
  2. Penggunaan bahan berbasis hayati seperti miselium jamur dan ganggang yang dapat ditumbuhkan dengan bantuan robot
  3. Pengembangan kembar maya atau digital twin yang terus memperbarui data berdasarkan sensor di bangunan nyata
  4. Fabrikasi di tempat menggunakan robot bergerak yang dapat membangun struktur secara langsung di lokasi proyek
  5. Demokratisasi alat desain sehingga masyarakat umum dapat berpartisipasi dalam perancangan lingkungan binaan mereka
  6. Penggabungan arsitektur dengan permainan dan media interaktif untuk pengalaman ruang yang lebih kaya
  7. Pengembangan bangunan yang dapat dibongkar dan dirakit ulang untuk mengurangi limbah

Majalah Architecture and Urbanism edisi Juli 2024 secara khusus membahas kondisi Post Digital Architecture dalam arsitektur kontemporer. Terbitan tersebut menampilkan penelitian dari berbagai institusi terkemuka dan menunjukkan bagaimana arsitek beradaptasi dengan gangguan teknologi dan ekologi yang terjadi saat ini.

Kesimpulan

Post Digital Architecture menawarkan cara pandang baru terhadap hubungan antara manusia, teknologi, dan lingkungan binaan. Pendekatan ini mengajak arsitek untuk tidak sekadar menggunakan perangkat lunak canggih, tetapi juga memahami dampak budaya dan sosial dari setiap keputusan desain. Dengan memadukan ketepatan mesin dan kepekaan manusia, arsitektur post digital membuka kemungkinan baru untuk menciptakan ruang yang bermakna dan responsif terhadap kebutuhan penggunanya.

Eksplorasi lebih dalam Tentang topik: Arsitektur

Cobain Baca Artikel Lainnya Seperti: Woonerf: Konsep Desain Jalan Ramah Pejalan Kaki dari Belanda

Author