Shingle Style

JAKARTA, inca-construction.co.id – Pernahkah kamu melihat rumah dengan seluruh dinding luarnya dilapisi kayu sirap yang memberikan kesan hangat dan menyatu dengan alam? Itulah yang disebut sebagai shingle style. Gaya arsitektur ini lahir di Amerika Serikat pada akhir abad ke-19 dan menjadi simbol kemewahan rumah-rumah peristirahatan di kawasan pesisir New England. Shingle style menampilkan keindahan material kayu sirap yang membungkus hampir seluruh permukaan bangunan mulai dari dinding hingga atap. Keunikan gaya ini terletak pada kemampuannya menciptakan tampilan yang organik dan mengalir tanpa terputus oleh ornamen berlebihan. Memahami shingle style secara mendalam akan membuka wawasan tentang salah satu warisan arsitektur Amerika yang paling berpengaruh.

Sejarah Lahirnya Shingle Style di Amerika

Shingle Style

Shingle style muncul pertama kali di kawasan New England Amerika Serikat pada dekade 1870-an hingga 1880-an. Gaya arsitektur ini berkembang sebagai respons terhadap gaya Victoria yang dianggap terlalu rumit dan penuh ornamen. Para arsitek Amerika saat itu mencari ekspresi arsitektur yang lebih sederhana namun tetap elegan. Pengaruh utama shingle style berasal dari beberapa sumber meliputi:

  • Arsitektur kolonial Amerika yang menggunakan kayu sirap sebagai material utama
  • Gerakan Arts and Crafts dari Inggris yang menekankan keindahan material alami
  • Arsitektur vernakular New England yang telah lama menggunakan sirap kayu
  • Pengaruh arsitektur Jepang yang diperkenalkan melalui pameran dunia

Gaya ini mencapai puncak popularitasnya pada tahun 1880-an ketika banyak keluarga kaya Amerika membangun rumah peristirahatan musim panas di kawasan pesisir. Newport di Rhode Island dan Cape Cod di Massachusetts menjadi pusat perkembangan shingle style yang masih dapat dilihat hingga saat ini.

Tokoh Arsitek Pelopor Shingle Style

Beberapa arsitek ternama Amerika berperan besar dalam mengembangkan dan mempopulerkan shingle style. Henry Hobson Richardson dianggap sebagai salah satu pelopor utama meskipun ia lebih dikenal dengan gaya Richardsonian Romanesque. Karya-karyanya menginspirasi generasi arsitek berikutnya untuk mengeksplorasi penggunaan kayu sirap. Arsitek-arsitek penting dalam perkembangan gaya arsitektur ini meliputi:

  • McKim, Mead, and White yang merancang banyak rumah ikonik di Newport
  • William Ralph Emerson yang dianggap sebagai bapak shingle style sesungguhnya
  • Bruce Price yang mengembangkan gaya ini di kawasan Tuxedo Park New York
  • John Calvin Stevens yang mempopulerkan gaya ini di kawasan Maine
  • Peabody and Stearns yang merancang rumah-rumah mewah di Massachusetts

Firma arsitektur McKim, Mead, and White khususnya menciptakan beberapa contoh shingle style paling berpengaruh termasuk Low House di Bristol Rhode Island yang menjadi ikon gaya ini.

Ciri Khas Arsitektur Shingle Style

Shingle style memiliki karakteristik visual yang sangat khas dan mudah dikenali. Ciri paling menonjol tentu saja adalah penggunaan kayu sirap atau shingles yang menutupi hampir seluruh permukaan eksterior bangunan. Material sirap ini menciptakan tekstur yang seragam dan kontinyu dari dinding hingga atap. Beberapa ciri khas arsitektur gaya ini meliputi:

  • Permukaan eksterior yang dibungkus kayu sirap secara menyeluruh tanpa jeda visual
  • Atap yang kompleks dengan berbagai sudut kemiringan dan bentuk gambrel atau jerami
  • Volume bangunan yang asimetris namun tetap seimbang secara visual
  • Jendela yang dikelompokkan dalam berbagai ukuran dan bentuk
  • Beranda atau porch yang luas dan terbuka sebagai ruang transisi
  • Ornamen yang minimal untuk membiarkan tekstur kayu sirap berbicara
  • Garis atap yang mengalir dan menyatu dengan dinding

Keseluruhan tampilan shingle style memberikan kesan bangunan yang tumbuh secara organik dari lanskapnya seperti formasi batuan alami.

Material Kayu Sirap dalam Shingle Style

Material utama yang mendefinisikan shingle style adalah kayu sirap atau wood shingles. Kayu sirap merupakan potongan tipis kayu yang dipasang secara bertumpuk untuk menutupi permukaan bangunan. Jenis kayu yang umum digunakan dalam gaya arsitektur ini antara lain:

  • Kayu cedar merah barat yang tahan cuaca dan memiliki aroma khas
  • Kayu cedar putih yang ringan dan mudah dikerjakan
  • Kayu redwood yang sangat tahan terhadap pembusukan
  • Kayu cypress yang populer di kawasan selatan Amerika
  • Kayu pine yang lebih ekonomis namun memerlukan perawatan ekstra

Seiring waktu kayu sirap akan mengalami perubahan warna menjadi abu-abu keperakan yang justru menambah karakter dan keindahan bangunan shingle style. Proses penuaan alami ini disebut weathering dan sangat dihargai dalam estetika gaya ini.

Elemen Atap pada Shingle Style

Atap merupakan elemen arsitektur yang sangat penting dalam shingle style. Desain atap pada gaya ini cenderung kompleks dengan berbagai sudut dan bentuk yang menciptakan siluet dramatis. Beberapa karakteristik atap pada gaya arsitektur ini meliputi:

  • Bentuk atap gambrel yang memiliki dua sudut kemiringan berbeda pada setiap sisi
  • Atap jerami atau gable dengan kemiringan yang curam
  • Kombinasi beberapa jenis atap dalam satu bangunan
  • Dormer windows yang menonjol dari permukaan atap
  • Eyebrow windows dengan atap melengkung seperti alis mata
  • Turret atau menara kecil dengan atap kerucut
  • Atap yang mengalir turun hingga hampir menyentuh tanah

Kompleksitas atap shingle style menciptakan permainan bayangan yang menarik dan memberikan karakter unik pada setiap bangunan.

Desain Jendela Khas ShingleStyle

Jendela pada shingle style memiliki peran penting dalam menciptakan komposisi fasad yang menarik. Berbeda dengan gaya arsitektur formal yang menekankan simetri, penempatan jendela pada gaya ini lebih bebas dan mengikuti kebutuhan ruang interior. Karakteristik jendela pada gaya arsitektur ini meliputi:

  • Pengelompokan beberapa jendela dalam satu kesatuan atau ribbon windows
  • Variasi ukuran jendela dari yang sangat besar hingga kecil dalam satu fasad
  • Jendela Palladian dengan bentuk setengah lingkaran di bagian atas
  • Bay windows yang menonjol keluar dari bidang dinding
  • Jendela dengan bingkai kayu yang sederhana tanpa ornamen berlebihan
  • Penggunaan kaca patri pada beberapa jendela dekoratif

Penempatan jendela yang tampak acak namun terencana dengan baik memberikan fasad shingle style tampilan yang dinamis dan tidak membosankan.

Beranda dan Ruang Transisi Shingle Style

Beranda atau porch merupakan elemen arsitektur yang sangat penting dalam shingle style. Ruang semi-outdoor ini berfungsi sebagai zona transisi antara interior dan eksterior bangunan. Beranda pada gaya arsitektur ini biasanya memiliki karakteristik berikut:

  • Ukuran yang luas dan dapat mengelilingi sebagian besar bangunan
  • Kolom penyangga dari kayu dengan desain sederhana atau tanpa kolom sama sekali
  • Lantai dari papan kayu yang selaras dengan material sirap
  • Atap beranda yang menyatu dengan atap utama bangunan
  • Pagar atau railing yang rendah untuk menjaga keterbukaan visual
  • Integrasi dengan taman dan lanskap sekitar

Beranda shingle style dirancang untuk menikmati pemandangan alam sekitar dan udara segar terutama pada rumah-rumah di kawasan pesisir.

Denah dan Tata Ruang Interior Shingle Style

Interior rumah shingle style sama menariknya dengan eksteriornya. Tata ruang interior gaya ini menekankan keterbukaan dan aliran ruang yang bebas. Beberapa karakteristik denah dan interior pada gaya arsitektur ini meliputi:

  • Denah terbuka atau open floor plan yang menghubungkan ruang-ruang utama
  • Living hall sebagai ruang pusat yang multifungsi
  • Tangga utama yang menjadi elemen visual dominan
  • Perapian besar dari batu alam sebagai focal point ruangan
  • Langit-langit tinggi dengan ekspos struktur kayu
  • Penggunaan material kayu yang konsisten dari eksterior ke interior
  • Ruang-ruang yang mengalir tanpa batas yang kaku

Konsep living hall pada shingle style merupakan inovasi penting yang kemudian memengaruhi perkembangan arsitektur modern Amerika.

Filosofi Desain di Balik Shingle Style

Gaya arsitektur sirap ini memiliki filosofi desain yang mendalam dan berbeda dari gaya-gaya semasanya. Para arsitek penciptanya percaya bahwa bangunan seharusnya menyatu dengan lingkungan alamnya bukan mendominasi. Filosofi ini tercermin dalam beberapa prinsip berikut:

  • Keselarasan dengan alam melalui penggunaan material organik dan warna natural
  • Kejujuran material dengan membiarkan kayu sirap tampil apa adanya tanpa finishing berlebihan
  • Kesederhanaan bentuk yang menolak ornamen demi keindahan volume dan massa
  • Kontinuitas permukaan yang menciptakan kesan bangunan sebagai satu kesatuan utuh
  • Hubungan indoor-outdoor yang kuat melalui beranda dan bukaan besar

Filosofi ini kemudian menjadi dasar bagi perkembangan arsitektur organik yang dipopulerkan oleh Frank Lloyd Wright.

Perbedaan ShingleStyle dengan Queen Anne

Gaya arsitektur sirap ini sering dibandingkan dengan gaya Queen Anne yang berkembang pada periode yang sama. Meskipun keduanya merupakan gaya arsitektur Victoria, terdapat perbedaan mendasar antara keduanya. Perbandingan kedua gaya arsitektur ini dapat dilihat sebagai berikut:

  • Shingle style menggunakan kayu sirap secara menyeluruh sementara Queen Anne memadukan berbagai material dan tekstur
  • Ornamen pada shingle style sangat minimal sedangkan Queen Anne kaya akan ornamen dekoratif
  • Permukaan bangunan shingle style tampil kontinyu dan mengalir sementara Queen Anne terlihat terpecah-pecah
  • Warna pada shingle style cenderung monokromatik sedangkan Queen Anne menggunakan banyak warna
  • Gaya ini lebih menekankan massa dan volume sementara Queen Anne menekankan detail dan dekorasi

Gaya arsitektur sirap ini dapat dianggap sebagai penyederhanaan dan pemurnian dari estetika Victoria yang berlebihan.

Pengaruh Shingle Style pada Arsitektur Modern

Gaya arsitektur sirap ini memberikan pengaruh yang signifikan terhadap perkembangan arsitektur Amerika selanjutnya. Prinsip-prinsip desain gaya ini menjadi fondasi bagi munculnya arsitektur modern Amerika. Beberapa pengaruh penting gaya arsitektur ini meliputi:

  • Konsep denah terbuka yang kemudian menjadi standar arsitektur modern
  • Penghargaan terhadap material alami yang diadopsi oleh gerakan organik
  • Integrasi bangunan dengan lanskap yang memengaruhi Frank Lloyd Wright
  • Kesederhanaan bentuk yang menjadi prinsip arsitektur Prairie School
  • Penggunaan material lokal yang konsisten dengan prinsip regionalisme

Frank Lloyd Wright sendiri mengakui pengaruh shingle style terhadap karya-karya awalnya terutama dalam hal keterbukaan ruang dan hubungan dengan alam.

Contoh Bangunan Ikonik Shingle Style

Beberapa bangunan shingle style yang masih berdiri hingga kini menjadi contoh terbaik gaya arsitektur ini. Bangunan-bangunan ini menunjukkan keragaman ekspresi dalam satu gaya yang sama. Contoh bangunan ikonik gaya arsitektur ini meliputi:

  • Isaac Bell House di Newport Rhode Island karya McKim Mead and White tahun 1883
  • Low House di Bristol Rhode Island yang dianggap sebagai masterpiece gaya ini
  • Kragsyde di Manchester-by-the-Sea Massachusetts karya Peabody and Stearns
  • William G Low House yang sayangnya sudah dihancurkan namun terdokumentasi dengan baik
  • Stoughton House di Cambridge Massachusetts karya Henry Hobson Richardson
  • Naumkeag di Stockbridge Massachusetts yang kini menjadi museum

Banyak dari bangunan-bangunan ini kini dilindungi sebagai bangunan bersejarah dan dapat dikunjungi oleh publik.

Penerapan ShingleStyle di Era Kontemporer

Gaya arsitektur sirap ini mengalami kebangkitan popularitas pada era kontemporer terutama di kawasan pesisir Amerika. Arsitek-arsitek masa kini menginterpretasikan ulang gaya ini dengan sentuhan modern. Penerapan kontemporer gaya arsitektur ini meliputi:

  • Penggunaan material sirap komposit yang lebih tahan lama dan ramah lingkungan
  • Kombinasi dengan elemen arsitektur modern seperti dinding kaca besar
  • Penerapan teknologi bangunan hijau dengan tetap mempertahankan estetika klasik
  • Skala bangunan yang lebih beragam dari rumah mungil hingga mansion
  • Adaptasi untuk iklim yang berbeda di luar kawasan New England
  • Integrasi dengan sistem energi terbarukan seperti panel surya

Kebangkitan gaya sirap kontemporer menunjukkan bahwa prinsip-prinsip desain gaya ini tetap relevan hingga saat ini.

Tips Menerapkan Elemen Shingle Style

Bagi yang tertarik mengadopsi elemen shingle style dalam desain rumah, ada beberapa tips yang dapat dipertimbangkan. Tidak harus menerapkan seluruh elemen gaya ini untuk mendapatkan karakternya. Beberapa tips penerapan gaya arsitektur ini meliputi:

  • Gunakan kayu sirap pada area tertentu seperti gable atau dormer untuk aksen
  • Pilih material sirap yang sesuai dengan iklim setempat
  • Pertimbangkan sirap fiber cement sebagai alternatif yang lebih tahan lama
  • Rancang atap dengan bentuk yang menarik dan kompleks
  • Ciptakan beranda yang luas untuk transisi indoor-outdoor
  • Gunakan palet warna natural yang harmonis dengan lingkungan
  • Kelompokkan jendela untuk menciptakan komposisi yang dinamis
  • Minimalkan ornamen dan biarkan tekstur material berbicara

Kunci keberhasilan penerapan shingle style adalah menciptakan keselarasan antara bangunan dan lingkungan alamnya.

Perawatan Bangunan ShingleStyle

Bangunan bergaya sirap ini memerlukan perawatan khusus terutama pada material kayu sirapnya. Pemeliharaan yang tepat akan memastikan bangunan tetap indah dan bertahan lama. Langkah-langkah perawatan yang perlu dilakukan meliputi:

  • Inspeksi rutin untuk mendeteksi sirap yang rusak atau lepas
  • Penggantian sirap yang rusak sebelum kerusakan menyebar
  • Pembersihan lumut dan jamur yang dapat merusak kayu
  • Penerapan sealant atau pengawet kayu secara berkala
  • Pemangkasan vegetasi yang terlalu dekat dengan dinding
  • Pemeriksaan sistem drainase atap untuk mencegah genangan air
  • Pengecatan ulang atau restaining sesuai kebutuhan

Dengan perawatan yang tepat bangunan shingle style dapat bertahan selama berabad-abad seperti yang dibuktikan oleh bangunan-bangunan bersejarah yang masih berdiri.

Kesimpulan

Shingle style merupakan gaya arsitektur khas Amerika yang lahir pada akhir abad ke-19 di kawasan New England. Gaya ini ditandai dengan penggunaan kayu sirap yang membungkus seluruh permukaan bangunan menciptakan tampilan yang hangat dan organik. Kesederhanaan ornamen dan kompleksitas bentuk atap menjadi ciri khas yang membedakan shingle style dari gaya Victoria lainnya. Tokoh-tokoh seperti McKim Mead and White dan William Ralph Emerson berperan besar dalam mengembangkan gaya arsitektur ini. Pengaruh shingle style terhadap arsitektur modern sangat signifikan terutama dalam konsep denah terbuka dan integrasi dengan alam. Di era kontemporer gaya ini mengalami kebangkitan dengan interpretasi baru yang memadukan estetika klasik dengan teknologi modern. Bagi pecinta arsitektur yang menghargai keindahan material alami dan hubungan harmonis dengan lingkungan, shingle style menawarkan inspirasi yang tak lekang oleh waktu.

Baca juga konten dengan artikel terkait tentang: Arsitektur

Baca juga artikel lainnya: Adaptive Housing: Konsep Arsitektur Hunian yang Fleksibel

Author